Pamit v 2.0
- Saya: Mama nanti sore berangkat ke Surabaya ya Soph
- Sophie: *mengangguk* Usyi tidak nangis, sama Papa.... anak hebat!
- Saya: *ngikik*
Minggu lalu Papa disambut Sophie dengan luka parut panjang di pipinya. Bekas cakaran. Kemudian, terjadilah percakapan yang kira-kira seperti ini:
Sakit, Papa
Tidak apa-apa sakit, nanti sembuh kok. Sophie pipinya kenapa?
Dicakar Nafi, Papa
Dicakar?
Iya Papa, Usyi rebutan perosotan sama Nafi
Oh, rebutan. Lain kali mainnya yang baik ya Soph. Gantian sama teman.
Iya Papa
Khawatir sih mendengar ini. Tapi yang membuat saya lebih khawatir adalah cerita selanjutnya yang disampaikan Guru Sophie. Ternyata, sebelum adegan rebutan perosotan berujung cakaran ini, Sophie terlebih dahulu menggigit pundak Nafi. Gara-gara perosotan juga!
Oh Nak, cepet amat sih memberikan PR tentang berbagi, bersabar dan kekerasan fisik buat Papa Mama? Kami kan belum sempat belajar tentang itu. Memang benar ya, jadi orang tua itu belajarnya tidak boleh berhenti. Anak nambah “ilmu” baru, kitanya juga harus mengimbanginya dengan ilmu tentang “ilmu” barunya itu.
Ayo papa, mari kita kerjakan PR dari gendhuk Sophie ini. Barengan yak ngerjainnya, kita diskusikan bagaimana penyelesaiannya.
Btw, Nafi adalah teman sekelas Sophie di baby class Sinar Mentari. Dan dia adalah anak dari Pak Tamam, teman sekantor Papa :)
Tadi ada budhe bakul pasar Karangmenjangan yang menanyakan seperti apa Sophie sekarang. Saya bingung sekaligus haru mendapatkan pertanyaan tersebut. Bingung karena saya tidak bisa menggambarkan seperti apa Sophie seutuhnya hanya dengan satu dua kalimat, sementara saya tidak punya waktu untuk berpanjang lebar. Terharu karena setelah 10 bulan Sophie tidak lagi di Karangmenjangan, masih ada yang menanyakan kabarnya, mengingatnya.
Tulisan ini saya buat sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut. Meskipun budhe bakul jajan pasar tidak akan pernah membacanya :)
Sophie itu ya, polivalen, sulit fokus pada satu hal saja, mudah bosan, dan kesannya ingin memiliki semuanya. Sounds familiar with those? Dalam skala yang berbeda mirip dengan saya ya, hahaha… Ilustrasinya ini ya, pas lagi bermain di playground. Sophie akan berlari kesana kemari, dari satu mainan ke mainan lain. Sophie tidak pernah memainkan mainan tersebut lebih dari 3 menit. Dari perosotan lalu ke ayunan, perosotan lagi, masuk ke dapur-dapuran (bukan untuk masak-masakan, tapi buka tutup pintu dan jendela, melongok-longok jendela sambil say hello ke saya atau suami yang menemaninya bermain), perosotan lagi, gotong-gotong kursi kecil, lempar bola ke keranjang, perosotan lagi, naik mobil-mobilan, perosotan lagi, main jungkat-jungkit, perosotan lagi, daaan seterusnya. Pokoknya semua mainan yang ada dapat jatah dan jatahnya itu secukupnya saja :) Perosotannya banyak yak? Itu karena Sophie paling suka sama perosotan. Tapi sesuka-sukanya dia merosot, Sophie tidak pernah merosot dua kali berturut-turut lho. Selalu diselingi mainan lain. Kalau semua mainan yang ada sudah dijajah dua-tiga kali, Sophie biasanya mencari kesibukan lain: mengelompokkan mainan. Jadinya Sophie akan menggotong jungkat-jungkit, mendorong mobil-mobilan, dan melokalisasinya sesuai jenisnya. Misalnya, jungkat-jungkit kuda laut di pojok sana, mobil-mobilan kuning di pojok sini, dan seterusnya. Biasanya sambil memindah-mindahkan mainan tersebut Sophie suka pasang acting kerja keras sambil tersenyum jahil dan berkata, berat Mama. Terus kalau sudah terkumpul sesuai kategori, Sophie juga laporan sama saya, ini sama, Mama :)
Karena hal-hal yang saya tuliskan tersebut di atas, kami biasanya memilih untuk bermain di play ground yang sepi. Kasihan anak lain ya kalo mainnya rame-rame :)
Dari progress report PAUD Sophie minggu lalu kelihatan bahwa motorik kasar Sophie berkembang lebih OK dibandingkan motorik halusnya. Genduk kami itu sukanya lompat-lompat seperti kelinci ketika bermain bebas. Bermain halang rintang yang ada lari, naik kursi, dan merangkak di bawah tali rafia, jelas Sophie suka sekali. Giliran memisah-misahkan biji-bijian Sophie tidak sabar deh. Alih-alih memisahkan jagung, kedelai dan kacang hijau dari campuran ke dalam wadah yang berbeda, Sophie malah mengambil segenggam campuran biji dan meletakkannya di mangkok jagung. Hal yang sama juga dia lakukan untuk mengisi mangkok kedelai dan mangkok kacang hijau. Yang penting cepat dan terus bisa ditinggal lari-lari ya Soph? Mewarnai? Persis kami deh, tidak berbakat, hahaha… Sophie harus dirayu-rayu dulu oleh Bu Yani agar mau mewarnai. Dan mewarnainya pun ala kadarnya, sebatas menggugurkan kewajiban saja. Ketika kami ditunjukkan karya Sophie, yang nampak hanya beberapa goresan asal-asalan saja, gambarnya di mana, yang diwarnai di mana. Memang deh ya, gen itu tidak pernah bohong :)
Permainan fisik yang disukai Sophie tersebut, sayangnya, membuatnya jadi tidak punya teman bermain di rumah. Bermain ala Sophie di rumah itu artinya adalah keluar rumah, memanjat pagar tetangga, mencabuti rumput dan menumbuknya dengan batu kecil, mengejar-ngejar dan memegang kucing liar, bermain pasir dll. Nah, para tetangga kami jarang mengijinkan anaknya bermain dengan Sophie, karena potensial kotor dan rungsing. Untungnya masih ada Mbak Khansa yang diperbolehkan berkotor-kotor bersama Sophie. Eh ya, Mbak Khansa ini anaknya sudah hampir 4 tahun dan rapiii banget. Jadi kalau pas lagi main di dalam rumah, Sophie mulai mengambil buku dari rak, membacanya, melemparnya dan ambil buku baru, Mbak Khansa selalu bilang, kok Sophie berantakan? Dan Mbak Khansa juga sering mengomentari kasur yang berantakan akibat digunakan Sophie sebagai trampolin jadi-jadian :)
Yah, seperti itulah Sophie kami :)
Sebenarnya masih banyak yang pengen ditulis, tapi sudah ada kerempongan jenis baru yang menunggu partisipasi saya saat ini. Have a nice day :)
Sophie sekarang lagi suka cerita sama orang lain di luar kami, orang tuanya. Kemarin-kemarin Bu Yani bercerita ke suami kalau hari sebelumnya Sophie bercerita pada beliau kalau tadi berangkat sekolah diantar Mama naik taksi, karena motornya lagi rusak di bengkel.
Eh, tadi pagi, lagi-lagi Sophie bercerita ke Mas Adi, tetangga samping rumah kami, kalau kucing liar yang suka nongkrong di depan rumah kami sedang sakit mata :)
Nah, yang membuat saya deg-degan dengan kebisaan barunya adalah realita bahwa yang menjadi sumber cerita Sophie adalah materi pembicaraan kami dengannya sebelumnya. Lah, saya kan kalau bicara cenderung tidak dipikir dulu ya. Khawatir deh kalau tiba-tiba Sophie menceritakan pembicaraan absurd kami pada orang lain. Iya, saya khawatir dengan respon orang lain terhadap absurdnya isi cerita Sophie -yang mana sumbernya dari saya itu-. Saya khawatir respon tersebut membuat Sophie malas atau bahkan tidak mau bercerita lagi setelahnya.
Errr, seabsurd apa sih pembicaraan saya dan Sophie? Ini salah satu contohnya, terjadi tadi malam setelah suami pamit ke Sophie mau kumpulan sama Bapak-bapak se RT.
Papa mau kemana?
Mau arisan Sophie
Alisan apa?
Arisan itu kumpul-kumpul sama Bapak-bapak
Bapak siapa?
Ayahnya Adik Kayla, Bapaknya Mbak Talent, Bapaknya Adik Beryl, Papanya Adik Rafa
Bapak-bapak apa?
Bapak-bapak itu yang punya nenen kecil <— tuh kan, absurdnya mulai keluar
Iyaa, ketil nenennya <— sampai di sini suami berteriak dari kamar mandi, kok definisi Bapak-bapak versi saya ini ngawur adanya :)
Eh, Bapak-bapak itu yang kakinya ada rambutnya Soph. Mama ini Ibu-ibu, liat nih, kaki Mama tidak ada rambutnya
Ooooo
dst dst.
Dan, lima belas kemudian Sophie mengulang pertanyaan yang sama, Bapak-Bapak itu apa. Saya jawab dengan ciri rambut di kaki. Dan tebak apa yang ditanyakan Sophie selanjutnya?
Nenennya bagaimana?
*tepok jidat*