April272012

Meninggalkan Tumblr

Mungkin sementara, mungkin juga permanen.

Penyebabnya sederhana, saya terganggu oleh tidak bersahabatnya tumblr dengan foto. Sudah hampir sebulan, lagi. Cukup sahih alasan yang saya punya, saya kira.

Mungkin saya akan kembali ngeblog di tumblr saat fitur fotonya pulih. Mungkin juga tidal. We’ll see.

Jangan khawatir, saya masih tetap menulis kok. Writing is a kind of therapeutic to me, sesuatu yang saya butuhkan. Sementara ini, tulisan saya bisa dilihat di sini. Silakan membaca, berkomentar pun bisa di sana.

See you there :)

Mama 

April262012

Gigit Jari Gara-gara KTP dan Kawan-kawannya

Minggu lalu saya kehilangan dompet, dalam perjalanan dari Surabaya ke Purwokerto. Jadilah saya menghabiskan hari Jumat kemarin dengan berkeliling dari kantor polisi ke lima bank di Purwokerto. Tujuan awal pulang gasik pun berantakan karenanya.

Saya punya rekening di Bank Jateng, BTN, BNI, Bank Mandiri dan BSM untuk tujuan yang berbeda. Bank Jateng untuk pembayaran gaji saya, BTN untuk urusan KPR, BNI untuk membayar biaya sekolah saya, Bank Mandiri untuk installment plan reksa dana dan BSM untuk mengakomodir kebutuhan saya akan layanan syariah. Gara-gara bersafari di lima bank tersebut, saya tahu bahwa CS bank terbaik di Purwokerto adalah CS BNI. Ada tiga keunggulan CS BNI yang saya rasakan:

  1. Menunjukkan empati atas kehilangan yang saya alami.
  2. Memberikan informasi yang jelas.
  3. Follow up. Ibu Maria menelpon ketika rekening saya telah berhasil diblok. Fyi, yang boleh mengeblok rekening adalah kantor cabang penerbit saja.

Sophie untungnya anteng saja diajak mondar-mandir seharian. Anteng dalam artian tidak cranky sih, bukan anteng yang duduk tenang. Sophie mondar-mandir, naik turun kursi dan sempat-sempatnya lari-larian lho :)

Sampai sekarang pun urusan perbankan ini belum beres. Ada dua rekening yang saya buka di Surabaya, dan kebetulan buku tabungannya juga hilang kemarin. Karena buku tabungannya hilang, otomatis rekening tersebut diblok dan untuk membukanya kembali saya harus mengajukan permohonan di kantor cabang di mana saya membukanya dulu. Karena saya berasal dari luar Surabaya, maka saya harus menunjukkan identitas kedua. Masalahnya adalah saya tidak punya satu pun dokumen identitas yang memiliki alamat yang sama seperti di KTP saya saat ini. Dan rekening saya pun masih terblok dengan manisnya saat ini. Lesson learnt, semua dokumen identitas harus memiliki alamat yang sama.

*Oh Papa, kita harus segera mengurus surat pindah. Dan memastikan semua dokumen kita memiliki alamat di Karang Gintung*

Dan, inilah saya yang sedang gigit jari. Dua rekening masih beku, satu kartu ATM baru bisa diambil minggu depan,  satu ATM tertinggal di Purwokerto, dan satu-satunya ATM yang saya pegang saldonya minimal *gigit meja* *nunggu transferan Papa*

Mama 

9AM

Tentang Dia yang Namanya Tak Pernah Tertulis di Phonebook Saya

Namanya Alwani. Alwani Hamad lengkapnya. Badannya lumayan besar, dengan rambut keriting yang tipis. Orang Jawa tulen yang slow dan nrimo, dalam berbagai aspek. Bicaranya sih pelan, tapi kalau sudah tertawa keras bener ya. Ngakaknya parah. Juga ngoroknya.

Kami adalah rekan sekantor sejak  tujuh tahun yang lalu. Tapi saya baru mengenalnya dua tahun kemudian. Sekarang, setelah empat tahun menikah, kami berhasil menambahkan *atau kebobolan ya? You name it* lima kg tambahan ke timbangan berat badannya dan juga empat kg untuk saya. Dan punya Sophie, batita kesayangan kami berdua.

Di awal-awal menikah kami diberi nasehat tetua keluarga kami, bahwa dalam pernikahan selalu akan ada ujian. Dan ujian tersebut seringkali datang dalam bentuk negasi dari apa yang paling kami cintai. Nasehat tersebut benar terbukti pada kami. Kami yang amat menyukai kebersamaan, yang memiliki bahasa cinta sentuhan, ternyata harus menjalani babak keluarga kocar-kacir. Dia di mana, saya juga entah di mana. Long distance love. LDL.

Kami menikah akhir Juni 2008. Pertengahan Oktober 2008 dia berangkat ke Bangkok. September 2010 saya dan Sophie pindah ke Surabaya. Oktober 2010 dia pulang ke Purwokerto. Juni 2011 Sophie boyongan ke Purwokerto. Saya masih di Surabaya, sampai sekarang. Membaca ini saja sudah capek ya? Semoga tidak :)

Selama empat tahun ini saya belajar bahwa Allah memberikan ujian itu ya sesuai dengan kemampuan kita. Kalaupun terlalu berat untuk dihadapi sendiri, Allah pasti memberikan pendukung yang memadai buat kita agar bisa menjalaninya. Nah, dia itu adalah pendukung saya dalam menjalani LDL ini. Dia menguatkan saya. Saya yang ketika bersamanya adalah si manja yang pengen disayang-sayang melulu laksana princess ini ternyata bisa survive ketika berjauhan.

Dia tidak hanya membantu saya survive dalam tempaan jarak itu, tapi juga menstimulasi saya untuk tumbuh.

Beberapa hari ini saya membaca kembali rekaman LDL kami, di inbox email dan chat facebook saya. Saya merasakan benar pertumbuhan tersebut. Dari yang menye-menye level kronis saat itu menjadi sedikit menye-menye saja saat ini. Terharu. Dan bersyukur.

Hari ini adalah ulang tahunnya yang  ke 31. Di hari yang spesial ini, ijinkan saya berbagi satu rahasia kecil. Saya tidak pernah menuliskan namanya di phonebook HP saya. Jangan tanya apa alasannya, saya juga tidak tahu.

It was started with HiM. *Iya, dengan ejaan alay seperti itu*. Menjelang menikah saya ubah menjadi Mas Sayang. Kemudian setelah hamil Sophie, berubah lagi jadi Papa Sayang. Sampai sekarang.

Panggilan ini juga berlaku untuk komunikasi lisan kami. Sebelum menikah saya memanggilnya dengan panggilan Mas. Setelah menikah panggilannya berubah jadi Sayang. Setelah hamil sampai sekarang saya memanggilnya dengan Papa atau Sayang, kondisional saja. Tapi entah kenapa saya tidak bisa memanggilnya dengan Mas lagi saat ini. Rasanya aneh di mulut dan telinga saya.

Saya tahu, dia pasti malu semi sebel  saya menuliskan ini semua. Tapi hey, sekarang ini ulang tahunnya. Sekali dalam setahun, tentu saja dia harus merelakan dirinya di-bully. Oleh istrinya :)

Robbie Williams dan Guy Chamber dalam God’s Better People mengatakan bahwa seseorang itu spesial ketika mereka tidak menyadari kualitasnya. You are one of God’s better people. And you don’t know it, that’s why you are so special. Begitulah posisinya dalam hidup saya.

Dirgahayu, Sayang. Doa terbaik untukmu.

Papa 

April232012

Jarik Batik Kesayangan Kami

Saya memiliki sehelai kain jarik batik yang amat saya sukai. Jarik tersebut telah menemani saya selama tujuh tahun, sejak saya lulus kuliah dan mulai bekerja di Purwokerto. Jarik itu adalah pemberian Ibu saya, sebagai bekal saya yang mulai belajar hidup mandiri, terpisah dari orang tua. Saya menggunakannya untuk selimut, bahannya ringan dan adem, cocok untuk saya yang maunya tertutup tapi tidak mau kegerahan.

Waktu berlalu, dan jarik tersebut merupakan salah satu item yang saya siapkan dalam tas melahirkan saya. Menurut beberapa pembisik saya, kostum paling nyaman buat ibu yang baru saja melahirkan adalah baju bukaan depan dan jarik. Dan ternyata itu terbukti pada saya. Setelahnya, jarik tersebut mulai berubah fungsi. Saya menggunakannya untuk selimut dan/atau alas ompol Sophie. Praktis deh, ujung sini untuk alas ompol dan ujung satunya lagi untuk menutupi badan Sophie.

Beda dengan saya yang nyaman menggunakan baby wrap dan sling, suami saya lebih nyaman menggendong Sophie dengan menggunakan jarik. Karena belakangan Sophie tinggal berdua dengan suami di Purwokerto,  praktis Sophie juga lebih familiar dengan batik akhir-akhir ini. Sophie kerap minta digendong saat saya di rumah. Gendong pake lendang, kata Sophie untuk menspesifikkan permintaannya. Lendang yang diucapkan Sophie maksudnya adalah selendang, sinonim dari jarik dalam perbendaharaan bahasa Sophie :)

Setiap hari suami menggendong Sophie dengan jarik. Pagi dan sore hari, saat mengantar - jemput Sophie ke TPA. Sophie itu sukanya membuat gerakan-gerakan yang membahayakan saat naik motor, makanya di usianya yang sudah 2,5 tahun ini masih perlu “diikat” dengan jarik. Jarik batik terbukti kuat lho, bisa menahan gerakan Sophie sehingga suami tetap aman berkendara. Kadang Sophie minta gendong di malam hari, biasanya kalau sudah mati gaya gulang-guling lama tapi belum bisa tidur juga. Dan untuk kondisi seperti ini, jarik batik adalah penyelamat suami. Tinggal gendong, tangan kiri suami menepuk-nepuk bokong Sophie, sedangkan tangan kanan untuk kipas-kipas. Biasanya tidak sampai sepuluh menit Sophie sudah terlelap.

Jarik batik itu ternyata mirip dengan bahan jeans, yaitu dalam hal semakin tua semakin nyaman dipakai. Makanya, walaupun kami punya banyak jarik batik, favorit suami dan Sophie adalah jarik tua pemberian Ibu saya sejak tujuh tahun yang lalu itu. Tampangnya sudah tidak bisa dibilang cantik sama sekali, lusuh. Mari  kita bayangkan, sudah bertahun-tahun tahun digunakan untuk selimut, sejak jadi alas ompol Sophie malah hampir tiap hari dicuci dengan mesin cuci pula. Tapi ya namanya suami saya, keindahan itu adalah sesuatu yang abstrak baginya, kenyamanan lah yang paling utama :)

Bicara tentang batik, saya punya kenangan tentangnya. Salah satu hal yang saya rindukan dari berlibur di rumah nenek saya di Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah adalah melihat dan mencoba membatik. Saya kagum dengan bulik-bulik saya karena kemampuan mereka membatik. Hampir semua rumah di sana memiliki canthing dan lain-lain peralatan batik. Saya dulu suka ikut ibu-ibu dan mbak-mbak berkumpul di teras, mendengarkan percakapan mereka, meskipun kadang saya tidak tahu apa isinya. Namun sekarang, saya tidak bisa lagi mendapati pemandangan tersebut. Saya tidak  ingat sejak kapan tradisi membatik itu hilang dari desa nenek saya, juga tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya.

Kenangan tentang membatik ternyata meninggalkan bekas dalam diri saya. Setelah saya tumbuh dewasa dan batik tidak lagi ada di desa nenek saya, ternyata saya masih ingat khasnya aroma lelehan malam, pedihnya mata meniup tungku kecil tempat melelehkan malam, sulitnya menotolkan ujung canthing mengikuti pola yang ada, dan seterusnya. Dan kenangan tersebut bersama beberapa barang batik yang sejak lama saya miliki, menumbuhkan kecintaan saya pada batik.

Nah, makanya saya senang sekali saat mengetahui ada program Satu Batik Jutaan Jari dari Bodrexin ini. Saya rasa program ini adalah wahana yang tepat untuk mengenalkan batik sejak dini pada Sophie. Melalui fan page Kebaikan Bodrexin, saya ingin berpartisipasi dengan cara mengajak Sophie mencetak sidik jarinya weekend nanti, lalu mengunggahnya ke fan page tersebut. Saya akan menceritakan padanya bahwa sidik jarinya akan digabung dengan ribuan sidik jari anak-anak se Indonesia, yang nantinya akan dijadikan motif batik. Sophie yang lagi masanya suka bertanya pasti menanyakan tentang sidik jari, Indonesia dan batik. Dan saya sudah mulai memikirkan jawabannya dari sekarang. Untuk batik, saya sudah punya jawabannya: batik adalah jarik gendong kesayangannya, daster kami berdua, dan juga baju andalan Papanya untuk bekerja. Batik itu dekat dengan kehidupannya.

Bila waktunya sudah tiba, saya ingin memberikan pengalaman seperti yang saya rasakan dulu pada Sophie. Desa Wisata Batik Kliwonan berjarak setengah jam perjalanan dari rumah Ibu saya di Karanganyar sana. Bila semuanya memungkinkan, saya akan mengajak Sophie bermain di sana, melihat-lihat, mencoba memegang canthing, membuat goresan sesuka hati, agar Sophie mengenal batik sejak dini. Mengenal pekerjaan rumit di balik keindahan batik agar bisa menghargainya.

Posting kali ini spesial saya tulis untuk Mommiesdaily. Ada maunya sih, saya menginginkan dompet Kate Spade dari Blog Competition yang diselenggarakan oleh Mommiesdaily dan Bodrexin, masih dalam rangka Satu Batik Jutaan Jari tersebut. Saya yakin pembaca blog saya sudah familiar dengan Mommiesdaily, karena saya beberapa kali membuat posting tentangnya, misalnya yang ini dan yang ini. Ah, jadi kangen nulis sesuatu lagi buat Mommiesdaily. Btw, meskipun saya tidak rajin berbincang di forumnya, saya suka membaca diskusi panjang lebar tentang berbagai hal di sana. Saya banyak belajar tentang menjadi ibu dan istri dari artikel-artikel yang ada di sana. Mommiesdaily adalah salah satu referensi saya sejak hamil hingga sekarang, dari masalah facial saat hamil hingga tentang batita mogok makan. Akhirnya, doa saya untuk semua pihak yang membidani dan membesarkan Mommiesdaily, semoga dapat kapling di surga, ya:)

PS: tumblr lagi ngambek berkepanjangan, jadi versi foto dari post ini yang saya ikutkan kontes saya tulis di sini.

Mama 

12PM

Pamit v 2.0

  • Saya: Mama nanti sore berangkat ke Surabaya ya Soph
  • Sophie: *mengangguk* Usyi tidak nangis, sama Papa.... anak hebat!
  • Saya: *ngikik*

Sophie 

← Older entries Page 1 of 39